Home / Headline / Asean Meeting Para Jaksa Agung, Prasetyo: Trend Terorisme Bermetamorfosa Ke Cyber

Asean Meeting Para Jaksa Agung, Prasetyo: Trend Terorisme Bermetamorfosa Ke Cyber

Rabu 25 Jul 2018 , 19:51 WIB

Jakarta-Jaksa Agung, HM Prasetyo mengatakan bahwa era revolusi industri generasi keempat yang ditandai dengan Internet of Think, ibarat pisau bermata ganda, karena selain kehadirannya yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, namun acapkali dimanfaatkan untuk melakukan berbagai kejahatan lintas negara.

“Seperti halnya terorisme yang telah bermetamorfosa menjadi cyber-terrroism, yang dilakukan dalam dunia virtual untuk menyebarkan ancaman kekerasan, penyesatan melalui gambar, foto dan video yang pada gilirannya dapat menimbulkan kegaduhan dan ketidakpercayaan terhadap institusi pemerintah,” kata Prasetyo di depan Forum ASEAN Meeting of Attorneys General 2018 di Singapura, Rabu (25/7/2018).

Dia menjelaskan bahwa trend terkini kejahatan teror dan perkembangan paham radikal, pemerintah telah melakukan amandemen terhadap UU Pemberantasan Tetorisme, yang memuat pendekatan baru dan lebih proaktif dalam pencegahan, penanganan dan pemberantasan kejahatan terorisme.

“Selain itu, telah dilakukan pendataan, inventarisasi serta pemblokiran situs radikal yang mengajarkan radikalisme, ujaran kebencian dan agitasi terorisme,” ujarnya saat menyampaikan sudut pandang Indonesia dalam penanggulangan Tindak Pidana Terorisme, Peredaran Gelap Narkotika, Korupsi dan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Menurut dia, secara institusional, kejaksaan secara serius dan bersungguh-sungguh mengoptimalkan pencegahan dan pemberantasan terorisme, melalui pembentukan Direktorat Tindak Pidana Terorisme dan Tindak Pidana Lintas Negara, serta mengajukan tuntutan maksimal terhadap para pelaku kejahatan terorisme.

Dalam presentasinya, Dia juga mencermati fenomena kejahatan terorisme yang terjadi, utamanya melalui jalur-jalur perbatasan diantara negara ASEAN dan melakukan transaksi melalui dunia maya, sehingga layak untuk menetapkan kondisi darurat narkoba mengingat berbahayanya penyalahgunaan narkoba bagi kelangsungan generasi penerus bangsa dan mengancam kelansungan berbangsa dan bernegara.

Lanjut Prasetyo pentingnya untuk melakukan penindakan secara represif dan penegakan hukum preventif, yang diharapkan dapat menekan terjadinya tindak pidana korupsi.

Karenanya dia menghimbau kepada para Jaksa Agung dan penegakan hukum di ASEAN, untuk mengantisipasi fenomena kejahatan lintas negara yang dilakukan para pelakunya secara terorganisir, terstruktur, terencana, dan sistematis. Sehingga tidak mudah diungkap dan dijangkau hanya oleh hukum satu negara saja.

“Oleh karenanya, perlu mengatasi dan mengantisipasinya secara komprehesif melalui pendekatan follow the suspect, follow the money & follow the asset,” papar dia.

Terkait progam Tabur 31.1 (tangkap buronan) oleh kejaksaan di seluruh Indonesia, merupakan seruan dan pesan bahwa tidak ada tempat yang aman bagi para pelaku kejahatam (no safen haven for criminals).

Di forum itu Prasetyo yakin bahwa pertemuan ini akan menciptakan komitmen bersama dan meniadakan sekat-sekat perbedaan untuk menyerukan pesan yang kuat kepada semua pihak bahwa keanekaragaman sistem hukum dan batasan wilayah yurisdriksi justru akan menjadi kekuatan yang besar apabila dapat disatukan dan dikelola dengan baik, saling mengisi, melengkapi, mendukung dan saling membantu.

“Hal itu melalui koordinasi dan hubungan kerjasama yang dapat kita lakukan bersama-sama satu sama lain,” papar dia.

Pada akhirnya Jaksa Agung mengajak para Jaksa Agung se ASEAN untuk meningkatkan kerjasama formal seperti ekstradisi dan Mutual Legal Assistance maupun non formal Prosecutor to Prosecutor.

Jaksa Agung juga mengajak seluruh peserta yang hadir untuk membuat komitmen tentang “mutlak perlunya dibangun kerjasama hukum yang lebih kuat untuk mewujudkan kawasan ASEAN yang komdusif dan aman dari berbagai kejahatan serius lintas negara, sehingga tidak ada peluang dan tempat bagi para penjahat untuk melakukan kejahatannya.”

ASEAN Meeting of Attorneys General 2018 di Singapura, selama 3 hari sejak 24-26 Juli 2018, mengangkat tema: Penguatan Kerjasama Penegakan Hukum dalam Pemberantasan Kejahatan Lintas Negara.

Ikut hadir pada pertemuan tersebut, selain Jaksa Agung RI, juga Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Umum Dr. Noor Rochmad, Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Barat Raja Nafrizal, SH, MH, Kepala Biro Hukum dan Hubungan Luar Negeri Darmawel, SH, MH, dan Asisten Khusus Jaksa Agung Dr. Asep N. Mulyana. (Red)

loading...

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Bagian yang ditandai harus diisi *

*