Home / Ekonomi / Belajar Manajemen Bencana, Arsitek Asia Belajar Bareng Di Yogya

Belajar Manajemen Bencana, Arsitek Asia Belajar Bareng Di Yogya

Thursday 05 Apr 2018 , 00:02 WIB

 

Yogyakarta-Meminimalisir resiko terjadi bencana bisa dilakukan para ahli, termasuk para arsitek. Apalagi, wilayah Kota Gudeg Yogyakarta ini masuk kawasan rawan bencana, seperti gempa bumi.

Sekda Pemprov DIY Gatot Saptadi berharap ada pendekatan arsitektur dalam membangun. Tak hanya sekedekar ekstetika saja, tapi juga ada jalur evakuasi jika terjadi bencana.

“Yogya ini market bencana, semua bencana ada, gempa bumi, erupsi gunung api, banjir, longsor, dan masih banyak lainnya,” katanya dalam Pelantikan Manajemen Resiko Bencana yang digelar Architect Regional Council Asia (Arcasia), Selasa 3 Maret 2018 malam.

Gatot mengetahui betul ragam bencana di Kota Pelajar Yogyakarta ini. Dia pernah menjabat sebagai Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, juga plt Bupati Sleman yang notabene wilayah ini banyak terjadi bencana.

Tahun 2006, Yogyakarta dilanda bencana dasyat gempa bumi hingga menyebabkan sekira 5.000 korban jiwa. Belum lagi rumah, bangunan dan benda-benda sejarah yang rusak akibat bencana itu.

Begitu juga dengan erupsi Merapi 2010 silam. Meski korban jiwa tak sebanyak saat gempa bumi 2016, namun ada juga korban jiwa, seperti juru kunci Merapi kala itu alm Mbah Marijan yang terkena awan panas.

Managemen penanganan pasca terjadi Gempa maupun Erupsi Merapi dinilai cukup baik. Meski demikian, Gatot melihat ada penanganan kurang pas jika dilihat saat ini.

“Kita punya pengalaman buruk di Kotagede. Banyak bangunan heritage (sejarah) dijual pasca bencana. Saat itu tidak terpikir, banyak bangunan yang dijual murah (karena rusak), hingga ke luar negeri,” katanya.

Kerugian terbesar, kata Gatot, kehilangan bangunan heritage tersebut. Pengalaman itu jangan sampai terulang kembali, karena bangunan heritage lebih bernilai dibanding yang lain.

Kegiatan ini diikuti 10 negara dari para arsitek. Ketya Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) DIY Ahmad Saifuddin Mutaqi juga menyampaikan sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk selatan pulau jawa merupakan wilayah rawan bencana. Ia menilai Indonesia menjadi supermarket bencana.

“Berbagai jenis bencana alam bisa dipelajari di Indonesia. Itu juga jadi tantangan bagi arsitek untuk menciptakan bangunan yang sesuai kondisi wilayah,” katanya.

Untuk pengurangan resiko bencana, perlu pemahaman arsitek terkait dampak bencana. Untuk itu, dalam Arcasia ini sengaja mengundang delegasi dari 10 negara rawan bencana di Asia.

“Kesempatan ini juga dimanfaatkan untuk menyerap pengetahuan pengurangan resiko bencana dari negara lain. Salah satunya kita bisa belajar dari Jepang, yang sama dengan Indonesia rawan bencana,” jelasnya. (Dng/Red)

loading...

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Bagian yang ditandai harus diisi *

*