Home / Indeks / Cerita Eks Wartawan, DL Sitorus Dari Kuli Tanjungpriok Hingga Raja Kebun Sawit

Cerita Eks Wartawan, DL Sitorus Dari Kuli Tanjungpriok Hingga Raja Kebun Sawit

Minggu 06 Agu 2017 , 12:57 WIB

 

Jakarta-Mantan Wartawan yang juga staf ahli ketua DPRD Sumatera Utara Yonge L.V. Sihombing, mempunyai cerita sendiri dengan sosok Sutan Raja Darianus Lungguk Sitorus, yang lebih dikenal dengan sebutan D.L. Sitorus.

DL Sitorus dikenal sebagai raja perkebunan Sawit yang lahir 12 Maret 1938, di sebuah desa terpencil bernama Parsambilan, Kec. Silaen, Toba Samosir, Sumut, itu merupakan anak tunggal dalam bahasa Batak anak sasada.

Yonge yang pernah mewawancarai DL Sitorus saat menjadi wartawan surat kabar harian Sinar Indonesia Baru (SIB) bahwa mendiang sejak kecil sudah menjadi anak yatim, karena ayahnya telah lebih dahulu meninggal dunia.

“Ketika saya mewawancarai almarhum, pada tahun 2000, di kantor PT. Torganda Jl. Iskandar Muda, almarhum pernah bercerita tentang kisah perjalanan hidupnya kepada saya, bahwa almarhum hidup dalam kepahitan,” cerita Yonge dalam keterangannya, Jakarta, Minggu (6/7/2017).

Ketika itu, kata dia DL. Sitorus, kerap di hina dan dicerca oleh teman di masanya dengan sebutan anak ‘hatoban‘ dalam bahasa Batak, atau anak pembantu. Memang, diakuinya bahwa ibunya bekerja membantu di ladang orang, untuk mendapatkan upah, agar mampu membeli beras, dan kebutuhan lainnya.

“DL. Sitorus, berkata, tak sanggup mendengar ejekan, dan cercaan, tersebut. Bahkan, kadang kala orang-orang dewasa dan orang tua disekitar rumahnya, pun berkata demikian,” ujar dia.

DL. Sitorus kecil hidup bersama ibunya, hanya menumpang di sebuah rumah namun, di bagian dapur rumah yang tak paham arti anak pembantu atau anak ni hatoban.

“Maklum, saat itu saya masih kecil. Tapi, sesekali ibu saya mendengar ejekan itu. Dan, ibu saya terdiam, tampak seakan marah, tapi tak kuasa berbuat apa-apa,” cerita DL Sitorus kepada Yonge.

“Suatu hari, kata D.L. Sitorus dalam ceritanya ke saya, D.L. bertanya kepada sang ibu. Oma (bahasa Batak ibu), apa arti anak ni hatoban. Ibu saya, tersenyum, dan tidak menjawab, tapi justru memeluk saya.”

DL. Sitorus, pun serasa tidak ada masalah dengan ejekan teman-temannya. Satu ketika ibunya berkata kepada DL. Sitorus, suatu saat nanti akan tahu. Namun, karena kerap diejek, akhirnya, ibunya memutuskan untuk pindah ke Pematang Siantar, dan membawa DL. Sitorus, hingga lulus SMA.

“Setelah lulus dari sekolah SMU, DL. minta ijin untuk merantau ke Jakarta, tapi sang ibu tidak mengijinkan. Ibunya berkata. “Hanya kau nya hidup ku, hanya kau nya hartaku’, lalu DL. pun mengurungkan niatnya untuk merantau,” ujar Yonge dari cerita DL Sitorus.

Meski dengan berat hati, akhirnya sang ibu pun mengijinkan permohonan DL untuk merantau ke Jakarta, dan meninggalkan sang ibu yang telah merawatnya hingga besar.

“DL. bercerita ke saya, sejak dia meninggalkan sang ibu, sejak itulah air mata seakan tak pernah absen dalam hidupku. Pelukan dan air mata, serta lambaian tangan ibu ku, tergiang terus dalam hidupku,” ujar Yonge.

Di Jakarta, DL Sitorus bekerja sebagai buruh kasar, di Tanjung Periok Jakarta, dengan kegetiran, kepahitan, hidup yang dialaminya, mengajarkan DL. Sitoris untuk tabah, tahan menderita, kerja keras, seraya berdoa, dan mengingat poda (doa) dan nasehat ibu nya.

Setelah itu DL Sitorus pun berumahtangga, serta memiliki anak. Usaha pun tumbuh dan berkembang pesat, dan tampil sebagai pengusaha papan atas secara nasional.

Mulai dari perkebunan, pendidikan, perbankan, perhotelan, perdagangan, perumahan, rumah sakit tumbuh bagai bunga bakung. Bahkan, dia pun menjadi inisiator pembentukan Partai Peduli Rakyat Nasional, (PPRN)

Hanya dengan doa, pelukan, dan rintihan dari sang ibu, dia pun diharapkan menjadi saluran berkat bagi banyak orang. Kini puluhan ribu orang, bekerja di perusahaan dia. Hasilnya tak hanya untuk keluarga, tapi juga membangun kampung halamannya di Tobasa, Sumut, bahkan nasional.

Uniknya lagi, cerita Yonge, disaat
Krisis Moneter tahun 1998, ekonomi nasional rontok, hampir semua usaha besar, sedang runtuh, namun berbeda dengan D.L. Sitorus, justru menuai dollar, karena ekspor minyak sawit.

“Saya berkesempatan mewawancarai beliau tahun 1999, dan saat itulah saya menulis di harian SIB dengan judul: D.L. Sitorus Menuai Dollar Saat Krismon,” katanya.

DL Sitorus dalam pesawat Garuda (ft:ist)

Kini, pada Kamis, 3 Agustus 2017, sontak warga Batak di Sumut terkejut, mendengar kabar meninggalnya DL. Sitorus saat terbang dengan Pesawat Garuda kelas Bisnis. Informasi pun beredar melalui medsos dan media massa.

“Saya setidaknya, salah satu yang akan mengingat dan mengenang karya dan bhakti beliau,” demikian Yonge. (Edo)

loading...

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Bagian yang ditandai harus diisi *

*