Home / Indeks / Dijanjikan Dapat Dollar AS, Anggota Jogja Dec Bongkar Kinerja Pengurus

Dijanjikan Dapat Dollar AS, Anggota Jogja Dec Bongkar Kinerja Pengurus

Minggu 10 Des 2017 , 19:06 WIB

 

Sleman, D.I Yogyakarta-Sejumlah eks anggota Organisasi Jogja Development Commitee (Jogja-DEC) mengaku kecewa dengan sikap pengurus yang menjanjikan akan memberi dana yang cukup besar bagi anggota aktif, sebesar antara 100 hingga 200 dollar Amerika dalan bentuk dana kemanusiaan melalui koperasi yang dibentuk.

Seorang eks anggota Jogja-DEC yang enggan disebutkan namanya bercerita bahwa saat ini tak sedikit anggota yang bergabung dalam struktur organisasi itu mundur teratur dari keanggotaan.

“Tapi juga masih ada anggota yang tetap bertahan menjadi anggota atau pengurus organisasi itu,” ucap pria paruh baya itu saat berbincang dengan kalangan pers di kawasan Jalan Seturan, Depok, Sleman, Yogyakarta, Minggu (10/12/2017).

Pria itu mengaku dirinya sudah tidak aktif, lantaran setiap kegiatan harus mengeluarkan biaya sendiri.

“Kami, keluarkan duit sendiri untuk bayar ini, bayar itu, setoran ini, setoran itu, dan banyak lainnya,” ujar dia sembari mengelus dada.

Dia keluar dan tak aktif diorganisasi itu, pasalnya janji memberikan dana dari bantuan luar negeri tak juga mengalir ke dirinya. Meski, dia sudah berulangkali menagih janji pada pengurus terkait pencairan dana yang tak terbatas nilainya itu.

“Bahkan, setiap anggota dijanjikan akan mendapat dana sekira 100 hingga 200 dollar Amerika perbulan pada pertengahan tahun 2017 lalu,” ungkap dia.

“Kita tunggu-tunggu pertengahan tahun belum turun, hingga menjelang akhir tahun 2017 ini juga belum ada respon. Katanya dana itu bisa cair dalam bentuk dana kemanusian melalui koperasi, tapi belum terbukti hingga saat ini,” sambung dia menjelaskan.

Meski organisasi Jogja-Dec tersebut disinyalir ada ditengah kehidupan masyarakat. Begitu juga kepengurusannya diduga terstruktur dari tingkat bawah hingga pusat secara rapi. Namun, alhasil janji tinggal janji dan hanya memberi harapan palsu.

“Bahkan, beberapa pengurus yang juga masih rekannya juga sudah mengeluarkan uang sendiri untuk membeli baju seragam dan perlengkapan lain. Kalau saya engak mau dijadikan pengurus, beli baju seragam saja sampai Rp 3 juta, belum lagi yang lain-lainnya. Memang, katanya untuk mendapat dana bisa lebih besar kalau jadi pengurus dibanding anggota,” ungkap dia bercerita.

Karena itu, dia mengaku sempat mengajak rekan-rekannya untuk keluar dari organisasi yang dinilai tidak rasional. Namun, dia bersama beberapa rekan-rekannya yang sempat bertahan dalam organisasi itu masih berharap apa yang dijanjikan segera direalisasikan.

“Ya sebenarnya kita masih nunggu, harapan dana bisa cair dan bisa jalankan program-program yang disusun,” katanya.

Menurutnya, banyak program yang dirancang dengan baik dalam struktur organisasi ini. Hanya saja, program itu tidak bisa berjalan karena tanpa ada supot dana.

“Programnya banyak, misalnya pencegahan penyakit, koperasi untuk anggota, jaminan sosial anggota, dan banyak lagi. Tapi itu semua engak bisa jalan kalau tidak ada dananya,” katanya.

Sebagai gambaran, organisasi ini sempat mencuat pada minggu kedua di bulan Maret 2016 lalu. Keterangan pers kala itu disampaikan Toto Santoso Hadiningrat selaku Dewan Wali Amanat Jogja-DEC di Ndalem Pujokusuman, Keparaan, Mergangsan, Kota Yogyakarta pada Jum’at, 11 Maret 2016 lalu.

Saat.itu, dia menjanjikan bahwa organisasi ini akan memberi dana yang cukup besar bagi anggota aktif, yakni sekira 100 hingga 200 dollar Amerika dalan bentuk dana kemanusiaan melalui koperasi yang dibentuk. Semua program tadi akan mulai tahun 2017 karena saat itu masih dalam proses perijinan.

Munculnya pemberitaan itu mengundang kecurigaan banyak pihak, termasuk kala itu disampaikan Wakil Ketua DPRD DIY Arief Noer Hartanta, politisi dari PAN DIY. Saat diminta tanggapan, dia meminta agar mencari informasi yang akurat terkait organisasi yang menawarkan iming-iming duit besar tersebut.

Pihak dewan juga mengundang instransi terkait seperti Korem 072 Pamungkas Yogyakarta, Polda DIY, Kejaksaan Tinggi, dan Pemda DIY dalam hal ini Kesbangpol dan lintas sektor untuk mencari informasi terkait organisasi ini.

Ternyata, legalitas struktur kepengurusan organisasi ini tidak diakui pemerintah. Sehingga, saat itu banyak pihak untuk waspada pada organisasi ini. Anggota dewan itu juga berharap masyarakat cerdas dalam menentukan sikap untuk masuk dalam suatu organisasi.

Sementara dari Polda DIY sendiri belum menerima delik aduan atau laporan resmi yang masuk terkait dugaan penipuan yang dibalut dalam suatu organisasi masyarakat ini. Pihak kepolisian sendiri tidak bisa menindak suatu organisasi karena kewenangannya ada di pemerintahan. (Dng)

loading...

1 Komentar

  1. Seperti kesaksian eks anggota DEC,saya jg merasakan kejanggalan2 yg ada di organisasi tersbt,yg dalilinya utk misi kemanusiaan ternyata utk menjd anggota tersbt hrs membayar administrasi ini dan itu ttpi kejelasan tdk ada sama sekali,saya mulai mundur karena sdh tdk beres lg organisasi tersbt.Menjanjikan dana yg besar dan menjanjikan jabatan itu hanya fiktif aja…sampai skg tdk ada yg jelas.Organisasi DEC bagi saya adalah sebuah penipuan yg berseragam dasi

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Bagian yang ditandai harus diisi *

*