Home / Indeks / GMKI Anugerahi Panji Perdamaian Kepada Syafi’i Maarif, Sabar Panggabean di Kesehatan

GMKI Anugerahi Panji Perdamaian Kepada Syafi’i Maarif, Sabar Panggabean di Kesehatan

Sabtu 17 Mar 2018 , 23:41 WIB

Jakarta – Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) melaksanakan Malam Penganugerahan Panji Perdamaian Tahun 2018 pada Jumat malam, 16 Maret 2018 bertempat di Grha Oikoumene PGI-GMKI, Jakarta.

Penganugerahan Panji Perdamaian Tahun 2018 dibagi menjadi delapan kategori yaitu kategori Penggerak Perdamaian, Penggerak Hubungan Antar Agama, Penggerak Lingkungan Hidup, Penggerak Pendidikan, Penggerak Kesehatan, Penggerak Hukum dan HAM, Penggerak Pemberdayaan Perempuan, dan kategori Penggerak Pemberdayaan Masyarakat.

Ketua Umum PP GMKI, Sahat Martin Philip Sinurat mengatakan pemberian penganugerahan ini merupakan bentuk apresiasi kepada seluruh kader GMKI dan juga figur masyarakat yang memiliki dedikasi pelayanan kepada bangsa, masyarakat dan negara.

“Banyak karya-karya yang telah dilakukan oleh senior GMKI dan jujur saya sangat terharu mendengar cerita dan pengalaman mereka yang bekerja dan berkarya tanpa pamrih,” katanya.

Dia juga mengatakan pemberian panji perdamaian kepada tiga tokoh inspiratif dan tujuh senior GMKI diharapkan dapat menjadi motivasi kepada seluruh kader GMKI dalam melakukan pelayanan di tiga medan layan.

“Ada banyak bidang-bidang kehidupan yang bisa dijadikan tempat pelayanan, harapannya pemberian panji perdamaian ini akan menjadi inspirasi bagi kader-kader GMKI untuk secara serius dan tulus melakukan pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara di berbagai bidang,” ujarnya.

Ada hal yang unik pada acara penganugerahan Panji Perdamaian ini. Panji Perdamaian setiap kategori dinamakan sesuai dengan nama senior-senior GMKI yang telah meninggal dan berkiprah bagi bangsa dan negara.

“Kami melakukannya agar generasi saat ini dapat mengingat dan meneruskan perjuangan para senior. Delapan senior GMKI yang diabadikan sebagai nama Panji Perdamaian antara lain Johannes Leimena, Herman Johannes, Amir Sjarifuddin, Yap Thiam Hien, Marianne Katoppo, Ir. Van Doorn, Pdt. Eka Darma Putera, dan dr. J.E Siregar,” jelas Sahat.

Tiga figur yang mendapatkan Panji Perdamaian Johannes Leimena adalah Buya Ahmad Syafi’i Maarif, Pdt. S.A.E Nababan, dan Romo Frans Magnis Suseno. Selain itu, tujuh Senior yang mendapatkan Panji Perdamaian GMKI 2018 adalah Zarniel Suria Woleka, SH (Panji Pdt. Eka Darmaputera, kategori Penggerak Hubungan Antar Agama), Jamartin Sihite (Panji Ir. Van Doorn, kategori Penggerak Lingkungan Hidup), dan Prof. Armein Langi (Panji Herman Johannes, kategori Penggerak Pendidikan).

Selanjutnya dr. Sabar Panggabean, Sp.B (Panji dr. J.E Siregar, kategori Penggerak Kesehatan), Johny Nelson Simanjuntak, SH (Panji Yap Thiam Hien, kategori Penggerak Hukum dan HAM), Lusia Palullungan (Panji Marianne Katoppo, kategori Penggerak Pemberdayaan Perempuan), dan Sapta Putra Ginting (Panji Amir Sjarifuddin, kategori Penggerak Pemberdayaan Masyarakat).

Adapun profil dari delapan senior yang namanya diabadikan menjadi nama Panji Perdamaian antara lain, Johannes Leimena, pernah menjadi Menteri Kesehatan dan menggagas lahirnya Puskesmas, beliau diangkat menjadi Pahlawan Nasional tahun 2010. Kemudian Prof. Herman Johannes, rektor kedua UGM dan mantan Menteri Pekerjaan Umum di tahun 1950, beliau menjadi anggota Christelijke Studenten Vereniging (CSV) Bandung (cikal bakal GMKI) dan diangkat menjadi Pahlawan Nasional tahun 2009.

Selanjutnya Yap Thiam Hien, merupakan pengacara dan pejuang HAM dan anti korupsi. Yap merupakan salah satu pendiri Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) dan pernah menjadi anggota CSV (cikal bakal GMKI) di Jakarta. Tokoh berikutnya adalah Amir Sjarifuddin, salah satu dari empat serangkai bersama Soekarno, M. Hatta, dan Sutan Sjahrir. Sjarifuddin pernah menjadi Perdana Menteri dan aktif selama bertahun-tahun di CSV Jakarta (cikal bakal GMKI).

Kemudian dr J.E Siregar, adalah Ketua Umum GMKI yang terpilih melalui Kongres pertama GMKI tahun 1950. Beliau merupakan salah satu pendiri Universitas Kristen Maranatha Bandung. Marianne Katoppo adalah teolog feminis pertama di Asia. Ir. Van Doorn adalah ahli perhutanan dari Belanda yang memperkenalkan nilai-nilai oikoumene dari World Student Christian Federation ke Indonesia.

Dan terakhir adalah Pdt. Eka Darmaputera, seorang teolog yang aktif dalam hubungan lintas iman. Bersama-sama dengan Abdurrahman Wahid, Gedong Bagus Oka, dll, Eka adalah salah satu tokoh di balik pembentukan Dian/Interfidei, sebuah organisasi yang aktif bergerak dalam dialog antar iman dan berkedudukan di Kaliurang, Sleman. (Ril/Red)

loading...

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Bagian yang ditandai harus diisi *

*