Home / Headline / Jaksa Agung Beri Sinyal Akan Bui Karen

Jaksa Agung Beri Sinyal Akan Bui Karen

Jumat 10 Agu 2018 , 19:52 WIB

Jakarta-Jaksa Agung HM Prasetyo memberi sinyal untuk menahan bekas Direktur PT Pertamina Karen Agustiawan terkait status tersangka dugaan korupsi investasi di Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia tahun 2012 yang diduga merugikan negara sebesar Rp568 miliar. Namun, kata dia penahanan terhadap bekas bos di perusahaan plat merah tersebut setelah proses penyidikan selesai.

“Jadi (saat ini) proses (penyidikan) nya masih berjalan, tunggu saja ya,” ucap Prasetyo, di Kejagung, Jumat (10/8/2018).

Karena itu dia perintahkan kepada tim jaksa penyidik agar proses penyidikan dilakukan secara transparan, obyektif dan tidak tebang pilih. Terkait kemungkinan penahanan terhadap Karen dalam perkembangan penyidikan kasus tersebut, Prasetyo menekankan hal itu akan dilakukan secara bertahap.

“Ya nanti bertahaplah, tidak semuanya harus bersama-sama (dengan tersangka lain). Adakalanya bisa seperti itu, nanti kita lihat dulu,” ucapnya.

Untuk diketahui Karen berstatus tersangka berdasarkan Surat Perintah Penetapan Tersangka Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Nomor: Tap-13/F.2/Fd.1/03/2018. Selain Karen, penyidik juga telah menetapkan tiga orang tersangka lainnya.

Masing-masing, Chief Legal Councel and Compliance PT. Pertamina (pada saat kasus terjadi) berinisial Genades Pandjaitan, mantan Direktur Keuangan PT Pertamina (persero) berinisial Frederik Siahaan, dan mantan Manager Merger dan Investasi (MNA) pada Direktorat Hulu PT Pertamina, Bayu Kristanto.

Dari 4 tersangka itu, jaksa penyidik baru menahan tersangka Bayu Kristanto pada mulai Rabu, 8 Agustus 2018, untuk 20 hari ke depan. Bayu ditahan di Rumah Tahanan Salemba cabang Kejaksaan Agung.

terpisah Jampidsus Adi Toegarisman mengatakan penahanan terhadap Bayu untuk memudahkan penyidikan, dikhawatirkan melarikan diri, menghilangkan barang bukti serta mempengaruhi orang lain atau saksi.

Sebab kata Adi, tersangka melakukan penyelewengan investasi pada Blok BMG Australia tidak ada hasil due diligence (uji tuntas) terlebih dahulu.

“Tapi ini proses (investasi) terus berjalan kan, tanpa ada due diligence itu. Selain itu kan harus ada penelitiannya dulu, tapi ini kan malah dilanggar,” ujar dia.

Seperti diketahui, perjanjian dengan ROC Oil atau Agreement for Sale and Purchase -BMG Project itu diteken pada 27 Mei 2009. Nilai transaksinya mencapai US$31 juta. Akibat akuisisi itu, Pertamina harus menanggung biaya-biaya yang timbul lainnya (cash call) dari Blok BMG sebesar US$26 juta. Melalui dana yang sudah dikeluarkan setara Rp 568 miliar itu, Pertamina berharap Blok BMG bisa memproduksi minyak hingga sebanyak 812 barrel per hari.

Ternyata Blok BMG hanya dapat bisa menghasilkan minyak mentah untuk PHE Australia Pte Ltd rata-rata sebesar 252 barel per hari. Pada 5 November 2010, Blok BMG ditutup, setelah ROC Oil memutuskan penghentian produksi minyak mentah. Alasannya, blok ini tidak ekonomis jika diteruskan produksi.
Investasi yang sudah dilakukan Pertamina akhirnya tidak memberikan manfaat maupun keuntungan dalam menambah cadangan dan produksi minyak nasional. Hasil penyidikan Kejagung menemukan dugaan penyimpangan dalam proses pengusulan investasi di Blok BMG.

Pengambilan keputusan investasi tanpa didukung feasibility study atau kajian kelayakan hingga tahap final due dilligence atau kajian lengkap mutakhir. Diduga direksi mengambil keputusan tanpa persetujuan Dewan Komisaris. Akibatnya, muncul kerugian keuangan negara cq Pertamina sebesar US$31 juta dan US$ 26 juta atau setara Rp568 miliar. (Edo/Red)

loading...

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Bagian yang ditandai harus diisi *

*