Home / Indeks / Kasus Tahura Di Bali, Sudung Situmorang Telusuri Melalui Pola CIA  

Kasus Tahura Di Bali, Sudung Situmorang Telusuri Melalui Pola CIA  

Selasa 18 Sep 2018 , 14:46 WIB

Jakarta-Kejaksaan Agung menerapkan Coruption Inpact Assesment (CIA) atau menggali akar persoalan dari fakta persidangan, dalam kasus penguasaan lahan Taman Hutan Rakyat (Tahura) Ngurah Rai, Denpasar, Bali milik Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup. Dalam kasus Tahura itu sudah diputus pengadilan dan telah berkekuatan hukum tetap (inkract).

Staf Ahli Pidana Khusus Kejaksaan Agung, Sudung Situmorang mengatakan melalui pendekatan CIA Kejari Denpasar telah menemukan akar masalah  pengusaan lahan itu, yakni pensertifikatan Tahura. Sertifikat terbit dengan memalsukan surat-surat yang menjadi dasar terbitnya sertifikat dan Pajak Bumi Bangunan (PBB).

“Kejari Denpasar telah melaksanakan pencegahan korupsi dengan cara CIA,” ujar Sudung kepada wartawan di Kejagung, Jakarta, Selasa (18/9/2018).

Sudung yang baru kembali dari Bali mendapat amanah dari Jaksa Agung HM Prasetyo untuk mensosialisasikan pencegahan korupsi dengan cara CIA melalui Kejari dan Kejati se-Indonesia. Bahkan, Kejati Bali, ucap dia telah berkoordinasi dengan Pemprov Bali, Kota dan Pemkab se-Bali terkait dengan akar muasal kasus sehingga kelak tidak terulang kasus yang sama.

“Selain sebagai penuntut umum, Kejaksaan juga mempunyai kewenangan untuk melakukan upaya pencegahan. Karena itu, dalam kasus Tahura, Bali ini, kami mencari akar persoalan yang menyebabkan kasus ini terjadi,” ujarnya.

Di kasus ini ada dugaan penguasaan TAHURA di Bali, ada keterlibatan oknum Badan Pertanahan Negara (BPN) dan oknum pejabat daerah hingga terbit sertifikat dan PBB.

“Kami menghimbau, pihak BPN maupun kepala daerah untuk berhati-hati dalam mengeluarkan sertifikat tanah. Kami tidak ingin kasus ini terulang kembali di wilayah lainnya,” ujar mantan Sesjampidsus Kejagung ini.

Di kasus ini Kejari Denpasar menetapkan 4 tersangka yakni Sumadi adalah orang yang menyuruh melakukan dan turut serta melakukan baik secara sendiri, maupun bersama-sama dengan Wayan Rubah (terdakwa dalam berkas dan penuntutan terpisah), I Gede Putu Wibawajaya (almarhum) dan Drs. Nyoman Artana selaku Kasi Pengaturan dan Penataan Pertanahan Kantor Pertanahan Kabupaten Badung. (Edo)

loading...

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Bagian yang ditandai harus diisi *

*