Home / Ekonomi / Kejagung Secara Marathon Garap Dana Hibah Bansos Alex Noerdin

Kejagung Secara Marathon Garap Dana Hibah Bansos Alex Noerdin

Jumat 26 Okt 2018 , 21:20 WIB

Jakarta-Tim Jaksa Gedung Bundar Kejaksaan Agung secara marathon terus menggarap penyidikan kasus dugaan korupsi dana hibah dan bantuan sosial (Bansos) Pemerintah Propinsi Sumatera Selatan tahun 2013.

Kasus dugaan korupsi yang merugikan uang negara hingga puluhan miliar rupiah itu, jaksa penyidik telah memeriksa mantan Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin.

“Proses penyidikan masih terus berjalan sampai saat ini. Diketahui kalau yang duhulu proses tahap persidangan, ini masih pengembangan, tentu jalannya masih kita lakukan,” ujar Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Adi Toegarisman, di Kejagung, Jakarta, Jumat (26/10/2018)

Dalam kasus ini belum ada tersangka, lantaran kata Adi tim penyidik perlu ke hati-hati dalam proses pemeriksaan, hal ini agar tidak ada kegagalan dalam proses hukum selanjutnya, sehingga tergambar dengan jelas. Apalagi perkara ini mendapat perhatian dari masyarakat.

“Fakta persidangan, pemeriksaa saksi, itu memang untuk membuat utuh perkara ini, sehingga memang tergambar secara jelas, bagaimana kerugian negaranya, bagaimana pelakunya dan bagaimana peristiwanya,” jelas Adi.

Disinggung, mengenai pemeriksaan Alex Noerdin apakah menyangkal atau mengakui? Adi mengatakan masalah pemeriksaan mengaku atau tidak hanya dari keterangan tersangka saja, dan memang seorang tersangka mempunyai hak untuk menyangkal.

“Itu harus dihargai. Kita harus profesional menanggapi itu. Terpenting, fakta lain yang bisa kita nilai sebagai alat bukti. Kita kumpulkan dan penyidik ini bagaimana meyakinkan penuntut umun. Kita ini satu atap (penyidik dan penuntut) tapi tetap bekerja professional,” ujar dia.

“Penyidikan bekerja ketika pelimpahan berkas tahap satu mereka tidak segan-segan berdiskusi panjang untuk menjelaskan pemahaman supaya tidak ada perbedaaan antara penyidik dengan penuntut umum. Itu tetap dilakukan,” tandas Adi.

Terkait adanya pihak lain, Adi mengatakan, tim penyidik masih dalam proses mengumpulkan semua fakta hukum dalam rangka nanti menyimpulkan siapa pihak yang terlibat keseluruhan itu.

“Kalau ditanya siapa? Tunggu nanti penetapan dari penyidik, siapa yang dikatakan terlibat untuk dijadikan tersangka. Kita sedang berjalan, tunggu nanti kapan kita menetapkan (tersangka),” tutup Adi.

Sebelumnya Alex Noerdin telah diperiksa, kemudian giliran Bupati Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) Sumsel, Heri Amalindo digarap jaksa penyidik untuk dimintai keterangannya pada Selasa 2 September silam. Heri diperiksa sebagai saksi, pasalnya pafa tahun 2013 sebelum menjabat sebagai Bupati, Heri menjabat sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Sumsel dan Plt  Bupati saat perkara itu mulai di selidiki.

Selain itu Jaksa juga mengarap mantan Kepala Dinas PU Cipta Karya Pemkab Pali dan Plt Kepala Dinas PU Bina Marga Sumsel, Rizal Abdullah sebagai saksi.

Kedua saksi itu tidak menutup kemungkinan hasil pemeriksaannya bisa saja statusnya ditingkatkan dari saksi ke Tersangka, jika ditemukan bukti.

Rizal sebelumnya pernah tersandung kasus korupsi proyek pembangunan wisma atlet dan gedung serba guna di Sumsel dan dikenakan hukuman 3 tahun penjara. Saat itu Rizal Abdullah sebagai Ketua Komite Pembangunan Wisma Atlet (KPWA) Provinsi Sumsel. atra Selatan. Kini Rizal sudah bebas dari balik jeruji besi setalah menjalani hukuman sejak 2015 silam.

Sedangkan Heri pernah diperiksaan oleh Kejaksaan pada 2009 lalu, saat masih menjabat Kepala Dinas PU Bina Marga Sumsel. Pemeriksaan terkait dugaan sejumlah proyek APBD tahun 2007 ketika dia menjabat Kepala Dinas PU Bina Marga Kabupaten Muba.

Kasus ini berawal adanya  temuan perubahan anggaran tahun 2013. Semula Pemprop Sumsel menetapkan alokasi hibah dan bansos sebesar Rp 1,4 triliun dari APBD, lalu diubah menjadi Rp 2,1 triliun.

Untuk mengungkap kasus ini jaksa telah memeriksa para saksi termasuk 140 lembaga swadaya masyarakat yang menerima pencairan dana hibah  dan anggota DPRD Sumsel periode 2009-2014 dan Gubernur Sumsel Alex Noerdin‎.

Saat itu Pemerintah Propinsi Sumsel menganggarkan dana untuk bantuan Hibah dan Bantuan Sosial dalam APBD sebesar Rp1.492.704.039.000. Lalu pada APBD Perubahan naik menjadi Rp2.118.889.843.100. Dengan rincian Dana Hibah Rp 2.118.289.843.100 dan Dana Bantuan Sosial Rp600 juta.

Dalam kasus ini, penyidik menemukan dugaan penyelewenangan mulai dari perencanaan, penyaluran, penggunaan, dan pertanggungjawabannya.

Semua proses tersebut langsung ditangani oleh Alex selaku Gubernur Sumsel tanpa melalui proses evaluasi/klarifikasi SKPD/Biro terkait. Sehingga diduga terjadi pertanggungjawaban penggunaan fiktif, atau tidak sesuai peruntukan, dan terjadi pemotongan. (Red)

loading...

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Bagian yang ditandai harus diisi *

*