Home / Indeks / Lawan Radikalisme, Mahasiswa Jabar Tumpah Ruah Peringati 89 Tahun Sumpah Pemuda

Lawan Radikalisme, Mahasiswa Jabar Tumpah Ruah Peringati 89 Tahun Sumpah Pemuda

Senin 30 Okt 2017 , 20:24 WIB

Jakarta-Menangkal virus radikalisme dan intoleransi yang dinilai akan berkembang di tengah masyarakat, sejumlah civitas akademika dari 200 Perguruan Tinggi Se Jawa Barat mengelar kuliah akbar secara serentak di 6 lokasi, se-Jawa Barat, pada moment peringatan 89 Tahun Sumpah Pemuda yang dipusatkan di Monumen Perjuangan Bandung, Sabtu 28 Oktober 2017 lalu.

Dalam kegiatan itu sejumlah citivas akademika se Jawa Barat sepakat untuk Indonesia tanpa radikalisme dan intoleransi. Mereka sepakat untuk menjaga kampusnya dari upaya-upaya adu domba dan isu-isu yang bersifat memecah belah antar mahasiswa. Sehingga kampus-kampus se Jawa Barat terbebas dari paham-paham radikal dan intoleransi.

Prihantono, salah satu pemimpin Perguruan Tinggi sekaligus Ketua PIKSI Ganesha Bandung memberikan materi di kegiatan kuliah akbar tersebut menjelaskan bahwa Pancasila memastikan bahwa hidup damai dalam keberagaman harus dijaga.

“Pancasila sudah sangat jelas memastikan kita sebagai warga negara untuk hidup rukun dan damai dalam keberagaman,” ujar Prihantono.

Senada juga di ungkapkan Dr.Ryan selaku Pimpinan PT asal Sukabumi dalam orasi kebangsaan mengatakan, ” Keberagaman harus kita jaga dan mahasiswa harus melawan Radikalisme dan Intoleransi”,ungkapnya.

Sedangkan Teddy Risandi menambahkan, setidaknya dari 50 ribu Civitas Akademi dari 200 Perguruan tinggi yang serentak digelar di 6 Zona Se Jabar, artinya mahasiswa harus mampu menjaga kampusnya menjadi pergerakan dengan semangat persatuan untuk melawan Radikalisme dan Intoleransi.

“Mahasiswa se-Jabar sepakat menolak paham radikal yang bersifat intoleran. Karena itu mahasiswa menolak adanya ideologi lain selain ideologi Pancasila,” ujarnya.

Teddy menambahkan hadirnya puluhan ribu mahasiswa, menandakan jika mayoritas anak bangsa menentang keras adanya upaya merubah dasar negara serta kekerasan.

“Para pimpinan Perguruan Tinggi memberikan materi di kegiatan kuliah akbar. Mereka semua sepakat, kasus mereka terbebas dari unsur yang melanggar hukum,” tandas Teddy. (Red)

loading...

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Bagian yang ditandai harus diisi *

*