Home / Indeks / Loeke Kartini Jangan Diingat Konde, Tapi…

Loeke Kartini Jangan Diingat Konde, Tapi…

Sabtu 21 Apr 2018 , 21:25 WIB

Jakarta-Loeke Larasati Agoestina, srikandi hukum kedua menduduki jabatan Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara (Jamdatun), posisi pejabat eselon I di lingkungan Kejaksaan Agung itu sebelumnya sempat diisi oleh Harprileny Soebiantoro pada tahun 2003 silam.

Loeke sapaannya perempuan tangguh yang pernah menjabat sebagai Kepala Kejati DI Yogyakarta tahun 2014 itu mengatakan setiap peringatan hari Kartini, tidak hanya peringatan dengan berpakaian berkebaya, pakai konde dan lainnya.

“Jangan itu saja. Tapi kita harus ingat bahwa dibalik itu semua ada sosok perjuangan perempuan muda di era waktu itu yang sudah memperjuangkan hak-hak dan berupaya untuk meningkatkan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Itu lah yang perlu kita ingat,” kata Loeke ditemui wartawan di ruang kerjanya, pada Jumat (20/4/2018).

Loeke perempuan yang banyak mengumbar senyum ini mengenang perjuangan Kartini bagaimana cara memperjuangkan kesetaraan waktu itu, yakni bagaimana perempuan harus sekolah. Karena ketika itu perempuan tidak boleh sekolah, harus dirumah tinggal menunggu menikah.

“Diera sekarang, khususnya saya yang berada dijajaran penegak hukum. Tentu kita dalam menjalankan tugas-tugas harus ingat itu, mungkin disamping memperjuangkan hak kita, jangan lupa kita harus melaksanakan kewajiban kita juga. Kita juga harus berani dan mampu bersaing dari sisi kemampuan, professional,” tutur dia.

Namun, sambung perempuan yang memulai karir di lingkungan korps Adhyaksa pada Maret 1987 itu menjelaskan dibalik sebagai penegak hukum yang harus berani, kuat dan ulet ada sosok sifat perempuan atau kodrat perempuan yang tidak boleh dilupakan.

“Disitu ada kelembutan, nurani juga harus berbicara, ada keibuan. Dan disamping itu juga ada tugas lain kita juga sebagai seorang istri. Itu pun tidak boleh dilupakan. Kita tetap berjuang untuk apa yang kita impikan, berjuang meraih mimpi kita dalam berkarir,” tutur alumnus tahun 1977 dari SMA Negeri 3 Bandung itu.

Meski demikian, kata Loeke berkarir bukan hanya sebagai penegak hukum. Dia pun memberi semangat bagi kaum perempuan lainnya, meski bekerja dan menjadi ibu rumah tangga, itu pun suatu pekerjaan yang sangat luar biasa.

“saya pun sangat menghargai itu. Karena itu saya sendiri ibu rumah tangga. Pekerjaan ibu rumah tangga bukan pekerjaan yang disepelekan tapi harus dihargai karena itu pekerjaan yang tiada berhentinya. Dari pagi sampai sore tiada berhenti beda dengan kita di kantor,” ucap ibu 3 orang anak dan seorang cucu itu.

Perempuan kelahiran Yogyakarta itu menambahkan bahwa perempuan mempunyai dua sisi-sisi. Kalau perempuan berkarier bisa memperjuangkan haknya tapi tidak melupakan kewajiban dan tidak melupakan fungsi sebagai seorang ibu, orangtua dan istri.

“Jadi menurut saya hari kartini sebagai moment sebagai seorang ibu, seorang perempuan untuk meningkatkan eksistensi dirinya dengan kemampuan pada dirinya dengan profesional tanpa melupakan kodrat bahwa kita adalah kaum perempuan,” tutur wanita yang telah berkarir 31 tahun di Kejaksaan tersebut.

Mantan Kepala Kejati Jawa Barat sejak September 2017 dan sebulan berikutnya ditunjuk sebagai Jamdatun itu saat disingung seberapa besarkah peran kartini untuk perempuan Indonesia, khususnya bagi dirinya.

Dengan nada halus dia berujar sangat besar. Artinya kalau Kartini saat itu tidak mendobrak dengan semangat Kartini ditengah situasi dan kondisi ketika itu, mungkin tidak ada perempuan Indonesia yang menjadi Menteri, hingga Presiden.

“Iya tidak ada bekerja di luar rumah,” ujar Loeke yang pernah menjabat sebagai Kepala Pemulihan Aset Kejaksaan tersebut. (Jul/Edo)

loading...

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Bagian yang ditandai harus diisi *

*