Home / Headline / Satgassus P3PTK Kejaksaan ‘Manusia Setengah Dewa’

Satgassus P3PTK Kejaksaan ‘Manusia Setengah Dewa’

Rabu 08 Agu 2018 , 17:05 WIB

Jaksa Agung HM Prasetyo melakukan pengembalian sumpah dan pelantikan terhadap 38 jaksa menjadi anggota Satuan Tugas Khusus Penanganan Dan Penyelesaian Perkara Tindak Pidana Korupsi (Satgassus P3PTK), di Ruang Baharuddin Lopa, Kejagung, Rabu (8/8/2018).

“Oleh karenanya, tidak berlebihan kalau ada yang berkeinginan dan berharap bahwa setiap personil Anggota Satgassus P3TPK akan terdiri dari manusia “setengah dewa”, karena mereka tidak sekedar dituntut hanya memiliki kemampuan intelektual dan kompetensi saja, tetapi juga harus memiliki komitmen kuat dalam melaksanakan tugas dan kewenangan penegakan hukum pemberantasan korupsi yang akan dijalankannya. Yang dilandasi akhlak dan moral serta integritas tinggi, senantiasa menjaga kehormatan diri,” ujar dia.

Menurut dia, saat ini kejahatan korupsi telah mengalami transformasi dan berkembang begitu pesat, dari yang semula sebagai kejahatan kerah putih, white collar crime yang dilakukan secara personal pada giliran berikutnya telah meningkat menjadi kejahatan yang melibatkan korporasi (corporate crime) dan kejahatan politik (top hat crime) yang tidak jarang dilakukan secara bersama-sama berjamaah.

“Dan yang lebih memprihatinkan lagi korupsi telah pula mengalami regenerasi menjadi semacam barang warisan dan diturunkan melibatkan keluarga , anak, isteri dan pelaku yang relatif masih berusia muda,” ujar dia.

Dia menekankan, fenomena seperti itu telah menimbulkan dampak sistemik besar, luas dan signifikan berefek domino yang tidak hanya menyebabkan melambatnya pertumbuhan ekonomi, mengganggu upaya mengentaskan kemiskinan, menurunkan kualitas hidup masyarakat, menjadikan semakin melebarnya kesenjangan sosial
dan ekonomi serta kesenjangan antar wilayah, tetapi juga telah menghambat upaya pemerintah mengakselerasi pembangunan nasional seperti yang diinginkan sebagai visi RPJMN 2005-2025 , mewujudkan Indonesia yang mandiri, maju, adil dan makmur,” papar dia.

Prasetyo menjelaskan bahwa Satgassus P3TPK lahir pada tahun 2015 silam yang memiliki misi utama memberantas berbagai praktek kejahatan korupsi yang terjadi baik di pusat maupun daerah.

“Dimana pada saat itu masih segar dalam ingatan kita, bagaimana di awal pembentukannya, Satgassus P3TPK
harus menghadapi tantangan dan hambatan, maupun kendala berkenaan terbatasnya dukungan dana operasional, sarana dan prasarana, termasuk munculnya pandangan skeptis, antipati, curiga bahkan sinis yang menuduh inovasi, langkah dan kebijakan tersebut dianggap tidak lebih hanya sebuah bentuk pencitraan,
memboroskan anggaran negara dan tidak akan mampu menghasilkan sesuatu yang berarti,” kata dia.

Namun demikian, lanjut dia bagaimana berpegang pada kebulatan tekad, semangat dan keyakinan menghadirkan penegakan hukum yang lebih terencana, terorganisir, terkoordinir, terarah, sepemikiran yang lebih terkendali dan bersih mengurangi dan mencegah terjadinya penyimpangan, penyelewengan dan penyalah gunaan kewenangan, bermartabat dan terpercaya.

“maka seiring berjalannya waktu, kini diharapkan orang dapat melihat
bahwa Satgassus P3TPK telah berhasil melakukan banyak hal positip dan prestasi yang cukup dapat dibanggakan sehingga keberadaannya layak diakui sebagai salah satu garda dalam upaya pemberantasan tindak pidana korupsi ditanah air,” ujarnya.

Karena itu lanjut Prasetyo dengan keberadaan Satgassus P3PTK dapat diakui sebagai salah satu garda dalam upaya pemberantasan tindak pidana korupsi ditanah air. (Edo/Red)

loading...

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Bagian yang ditandai harus diisi *

*