Home / Headline / Sukmawati Antara Conde dan Cadar, Emrus: Puisi Multimakna

Sukmawati Antara Conde dan Cadar, Emrus: Puisi Multimakna

Wednesday 04 Apr 2018 , 01:00 WIB

Jakarta-Pengamat Komunikasi Politik Emrus Sihombing menilai Puisi yang dikemukakan Sukmawati berjudul, “Ibu Indonesia” telah menimbulkan multimakna di ruang publik.

“Itulah sebagai bukti bahwa puisi tersebut sarat makna, tergantung kerangka referensi yang digunakan dan kerangka pengalaman serta posisi sosial atau politik dari setiap orang terkait dengan pemaknaan simbol dan kalimat yang merangkai puisi tersebut,” kata Emrus dalam keterangannya, Jakarta, Selasa (4/4/2018).

Dia menilai, dari perspektif kualitatif, khususnya paradigma konstruktivis, setiap individu memiliki kehendak bebas memberikan pemaknaan terhadap simbol yang diterima, termasuk isi puisi tersebut.

“Sebab dari aspek komunikasi, lambang atau pesan komunikasi tidak bermakna, tetapi manusialah yang memberikan makna terhadap lambang dan pesan komunikasi,” ujar dia.

Direktur Eksekutif Lembaga EmrusCorner itu menambahkan penambahan makna yang tersimpan di peta kognisi setiap individu akan menimbulkan perilaku yang unik antara satu dengan yang lainnya.

“Interaksi perilaku yang unik antara setiap individu bisa bertujuan mengkonstruksi realitas sosial maupun politik tertentu di tengah masyarakat atau suatu negara,” ungkapnya.

Emrus yang juga dosen Fisip Universitas Pelita Harapan itu menekankan tidak heran setiap perilaku komunikasi sarat nilai, kepentingan, kontekstual dan pasti subyektif.

“Untuk itulah perlu ada solusi bijak dan produktif memperjumpakan perbedaan makna atau pandangan dengan membuka ruang dialog antara berbagai pihak atau pemangku kepentingan untuk mempertemukan berbagai makna tersurat dan tersirat pada keseluruhan isi puisi tersebut yang sudah “ter-saving” di peta kognisi masing-mading individu dalam suatu masyarakat atau negara.”

Lanjut dia, bisa saja pertemuan tersebut dimediasi oleh organisasi keagamaan, atau partai politik, atau tokoh masyarakat yang kredibel yang diterima semua golongan.

“Pertemuan tersebut, untuk menyelesaikan perbedaan wacana semacam ini, jauh lebih produktif dan permanen daripada melalui proses hukum,” tutur dia.

Dengan perjumpaan irisan antar makna satu dengan lain, sambung Emrus dapat menumbuhkan proses kedewasaan komunikasi di Indonesia, sehingga tidak terjadi polemik yang berpotensi menimbulkan gesekan sosial antar berbagai kepentingan ke depan. (Edo/Red)

 

loading...

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Bagian yang ditandai harus diisi *

*