Home / Headline / Tahan Helmi Kamal Lubis, Jaksa Dalami Kasus Dana Pensiun Pertamina

Tahan Helmi Kamal Lubis, Jaksa Dalami Kasus Dana Pensiun Pertamina

Friday 17 Feb 2017 , 17:36 WIB

Jakarta-Jaksa penyidik pada pidana khusus Kejaksaan Agung ternyata sudah lama melakukan penyelidikan dan penyidikan terkait dugaan korupsi pengelolaan dana pensiun PT Pertamina Persero tahun 2013-2015 termasuk menelusuri aliran dana di kasus tersebut. Menyusul telah di tahannya mantan Presiden Direktur Dana Pensiun PT Pertamina (Persero) tahun 2013-2015, Muhammad Helmi Kamal Lubis oleh jajaran Jaksa Agung Muda Pidana Khusus.

“Bukti-bukti sudah dikumpulkan (oleh penyidik) termasuk bukti aliran dana dan sebagainya,” kata Jaksa Agung HM Prasetyo, di Kejagung, Jakarta, Jumat (17/2/2017).

Sebelumnya jaksa penyidik pada Kamis malam menahan Helmi Kamal Lubis, terkait dugaan korupsi sebesar Rp1,4 triliun. Penahanan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Salemba Cabang Kejaksaan Agung (Kejagung) selama 20 hari ke depan terhitung mulai Kamis 16 Februari 2017 kemarin.

“Penahanan itu untuk mencegah yang bersangkutan melarikan diri, mengulangi perbuatan dan menghilangkan barang bukti. Kita tahan 20 hari ke depan,” kata Jampidsus Arminsyah.

Penetapan tersangka terhadap tersangka MHKL itu beredasarkan Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Nomor: Print-02/F.2/Fd.1/01/2017 tanggal 9 Januari 2017.

Arminsyah menjelaskan penyidik telah menemukan bukti yang kuat keterlibatan yang bersangkutan dalam kasus tersebut hingga ditetapkan sebagai tersangka serta ditahan.

Modus yang dilakukan oleh tersangka yakni menggunakan dana pensiun untuk membeli saham yang tidak “liquid” berupa saham ELSA, KREN, SUGI dan MYRX. “Harganya setiap sahamnya sekitar Rp800 miliar, totalnya Rp1,4 triliun,” ujar dia.

Namun, lanjut Arminsyah untuk audit kerugian negara dikasus ini masih dalam diproses. “Sebenarnya sudah ada, tinggal resminya saja,” katanya.

Dikatakan, tersangkanya sampai sekarang baru satu orang, namun tidak tertutup kemungkinan akan adanya tersangka baru sejauhmana ada perkembangan baru dari penyidikan.

“Jadi intinya kasus ini, keliru dalam membeli dana itu. Kalau Bahasa Betawinya bilang barang butut dibeli,” tandas dia. (Edo/Red)

loading...

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Bagian yang ditandai harus diisi *

*