Home / Headline / Tahbiskan 42 Jaksa Baru, Prasetyo Waspadai Pertarungan Pilpres

Tahbiskan 42 Jaksa Baru, Prasetyo Waspadai Pertarungan Pilpres

Selasa 11 Sep 2018 , 00:02 WIB

 

Jakarta-Jaksa Agung HM Prasetyo melantik sebanyak 42 jaksa baru angkatan 75 tahun dalam acara Penutupan Pendidikan dan Pelatihan Pembentukan Jaksa (PPPJ) Angkatan LXXV Tahun 2018 di Aula Badiklat Kejaksaan Agung, Jakarta, Senin (10/9/2018).

Prasetyo yang di damping Wakil Jaksa Agung Arminsyah, Kabandiklat Setia Untung Arimuladi dan para Jaksa Agung Muda berpesan bahwa Jaksa baru saat ini, mengandung makna, arti dan nilai yang tinggi dan mulia, meski diiringi beban tanggung jawab yang tidak ringan.

Pasalnya kata dia, kini tugas, fungsi dan kewenangan yang dimiliki Jaksa yang begitu luas dan besar, diawali dan melekat didalamnya sumpah, komitmen moral dan janji luhur yang meletakkan kewajiban untuk harus selalu menjaga ahlak, etika, dan sikap mental terpuji sebagaimana yang telah kalian ucapkan bersama.

“Sehingga ibarat dua sisi dari mata uang yang sama, keduanya harus tetap dirawat dan dipelihara dengan baik, agar tidak tercederai dengan noda sekecil apapun yang dapat merusak harkat dan martabat profesi Jaksa secara keseluruhan. Mengapa demikian? bahwa Jaksa itu adalah Satu dan tidak dapat dipisah-pisahkan, een en ondelbaar,” tegas dia

Dia menghimbau bahwa amanah yang
diemban sebagai jaksa baru harus dilaksanakan dan dijaga dengan penuh kearifan untuk memastikan terpenuhi tuntutan pertanggungjawaban moral (moral responsibility), keilmuan (science responsibility), hukum (law responsibility), dan sosial (social responsibility) dalam setiap tugas dan kewenangan yang dijalankan.

“Dan tidak pula berlebihan jika tuntutan-tuntutan tersebut, dapat dinyatakan sebagai landas pijak, batasan, acuan cara pandang dan way of live bagi segenap insan Adhyaksa didalam berpikir, bersikap dan bertindak saat melaksanakan tugas pengabdian menegakkan hukum,” ungkapnya.

Dia menekankan bahwa kejahatan akan semakin berkembang dengan aneka
ragam, corak dan modus berbagai jenis baru tindak pidana yang tergolong sebagai kejahatan luar biasa dan serius (serious crime), selain tindak pidana korupsi, yang telah biasa dihadapi.

“sekarang telah bertransformasi sedemikian rupa, yang awalnya hanya dikenal sebagai kejahatan kerah putih (white collar crime) kini telah berkembang menjadi kejahatan korporasi (corporate crime) dan kejahatan politik (top hat crime), bahkan semakin meluas menjadi kejahatan lintas negara (transnational crime),” terangnya.

Selain itu juga dengan kemajuan teknologi di era Revolusi Industri 4.0 (the fourth industrial revolution), dimana di balik kemudahan dan kelebihan yang ditawarkan, dalam realitasnya telah memunculkan fenomena kejahatan baru yang tidak kalah rumit dan pelik.

“Teknologi informasi dengan kecanggihan dan karakteristiknya tersendiri dimanfaatkan secara keliru sebagai sarana melakukan berbagai jenis kejahatan seperti carding, pemalsuan data (data forgery), penyebaran virus untuk merusak ataupun membajak data secara sengaja, cyber-bullying, prostitusi online serta cyber terorism, menjadi tantangan baru yang membutuhkan penanganan ekstra cermat dan memerlukan pemahaman serta keahlian baru tersendiri pula,” papar dia.

Persoalan berikutnya yang juga perlu dicermati, terkait situasi politik yang terjadi didunia luar, terlebih di tanah air, setiap kali adanya kompetisi dan “pertarungan” perebutan posisi, kedudukan dan kemenangan diantara aktor-aktor politik terutama saat Pemilukada, Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres).

“Dalam waktu dekat Pemilu yang akan dilangsungkan secara serentak pada bulan April 2019 mendatang, dikhawatirkan tidak hanya menimbulkan kompetisi antar calon legislatif dan pasangan calon presiden dan wakil presiden saja, melainkan juga akan melibatkan sengitnya persaingan di antara massa pendukung dan masyarakat secara luas.

“Dalam situasi seperti itu, dinamika politik menjadi sulit diprediksi (unpredictable) karena sangat kental dengan banyaknya kepentingan yang saling berhadapan dan dapat menimbulkan benturan sebagai imbas dari ambisi untuk semua ingin menang walau dengan menempuh dan menghalalkan segala cara yang pada akhirnya bermuara menjadi persoalan hukum,” tandas dia. (Edo)

loading...

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Bagian yang ditandai harus diisi *

*