Home / Indeks / Telisik Korupsi Choel, KPK Periksa Manager PT Adhi Karya

Telisik Korupsi Choel, KPK Periksa Manager PT Adhi Karya

Senin 28 Des 2015 , 16:00 WIB
choel malarangeng

JAKARTA – Manajer Pemasaran Divisi Konstruksi I PT Adhi Karya M Arief Taufiqurrahman digarap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk diperiksa terkait pusaran dugaan korupsi proyek pembangunan sarana dan prasarana Pusat Pendidikan, Pelatihan, dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) Hambalang tahun 2010-2012.

Plh Kepala Biro Humas KPK, Yuyuk Andriati, di Jakarta, Senin (28/12/2015), mengatakan, pemeriksaan terhadap Arief sebagai saksi kasus  korupsi proyek pembangunan sarana dan prasarana Pusat Pendidikan, Pelatihan, dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) Hambalang tahun 2010-2012, untuk tersangka Andi Zulkarnaen Anwar (Choel) Mallarangeng selaku Chief Executive Officer (CEO) Fox Indonesia.

Arief dipemeriksa diduga mengetahui soal aliran dana ke berbagai pihak. Sebab, saat Arief bersaksi di Pengadilan Tipikor untuk terdakwa Deddy Kusdinar mantan Kepala Biro Keuangan dan Rumah Tangga Kemenpora, selaku PPK menyebut ada pertemuan di lantai 10 Kemenpora pada medio 2010 sebelum lelang proyek P3SON Hambalang.

Hadir dalam pertemuan itu tersangka Choel, Deddy, Wafid Muharam (saat itu Sesmenpora), dan staf khusus Menpora, M Fakhruddin. Pada pertemuan itu, PT Adhi Karya menyampaikan kesiapannya sebagai peserta lelang, karena saat itu perusahaan sedang mengerjakan proyek GOR di Surabaya, Jawa Timur (Jatim).

Hanya saja, Arief mengaku tidak mengetahui kapasitas Choel yang merupakan adik mantan Menpora Andi Alfian Mallarangeng tersebut. Namun saat itu, Choel sudah ada di ruangan pertemuan.

Menurut Arief, keberadaan Choel dan Fakhruddin dalam beberapa kali pertemuan bukan tanpa sebab. Belakangan setelah PT Global Daya Manunggal milik pasangan Herman Prananato (Komisaris) dan Nani Meilena (Direktur) menjadi subkontraktor, manuver tersebut dilakukan Choel untuk meloloskan perusahaan tersebut. Bahkan, Choel meminta fee 18% dari keseluruhan anggaran konstruksi Rp 1 trilyun. Tapi realisasinya ternyata berbeda.

Arief juga menyampakan, ada pemberian uang ke sejumlah pihak sebagai commitment fee. Pemberian uang tersebut memakai berbagai kode, yakni f1 untu Menpora, f2 untuk Sesmenpora, dan tetangga untuk DPR.

Selain itu, ada pemberian Rp 250 juta kepada Direktur Utama PT MSONS Capital Munadi Herlambang. Berikutnya Rp 500 juta kepada adik mantan Menpora Adhyaksa Dault, Adirusman Dault. Kemudian, Rp 2 miliar ke Kemenpora yang diserahkan dua tahap Bahkan, ada pengeluaran PT Adhi Karya untuk fee ke sejumlah pihak hampir mencapai Rp 12 milyar.

KPK menetapkan Choel Mallarangeng sebagai tersangka kasus ini setelah menemukan dua alat bukti permulaan yang cukup, karena diduga menyalahgunakan wewenang dan memperkaya diri sendiri, orang lain, dan korporasi sehingga merugikan keuangan negara.

Penyidik menyangka Choel melanggar Pasal Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

loading...

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Bagian yang ditandai harus diisi *

*