Home / Hukum / Terdakwa Hardi Tuding Kasus Pembunuhan Jasiaman Purba Penuh Rekayasa, Polres Binjai Bantah

Terdakwa Hardi Tuding Kasus Pembunuhan Jasiaman Purba Penuh Rekayasa, Polres Binjai Bantah

Rabu 05 Sep 2018 , 23:04 WIB
ilustrasi persidangan. (Pixabay)

Jakarta-Nasib sial menimpa Hardi Sihaloho, betapa tidak kasus dugaan pembunuhan terhadap Jasiaman Purba Tua (53) yang ditemukan tewas di saluran drainase depan rumah korban, mengarah kepada Hardi.

Kejadian yang terjadi pada Sabtu, 23 Maret 2018 lalu itu menjadi saksi bisu yang menyelimuti keluarga korban maupun Hardi. Pasalnya, tudingan yang mengarah ke Hardi juga mengarah ke Rosmalinda br. Saragih yang notabene istri Korban.

Hardi dan Rosmalinda pun akhirnya dijebloskan ke penjara setelah keduanya dituding melakukan konspirasi untak menghabisi nyawa korban.

Namun, anehnya tudingan itu tak satupun mengarah ke terdakwa dari saksi-saksi yang dihadirkan pihak Jaksa, sejak Hardi dan Rosmalinda duduk di kursi pesakitan Pengadilan Negeri Binjai, Sumatera Utara.

“Sepanjang persidangan sudah ada 17 saksi yang dihadirkan jaksa, sesuai Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang memberatkan terdakwa, tapi di persidangan saksi-saksi itu tidak satupun mengarah ke Hardi Sihaloho,” ujar Nasib Maringan Silaban, Jakarta, Rabu (5/9/2018).

Maringan menjelaskan pada persidangan yang dipimpin Ketua Majelis Hakim, Fauzul Hamdi, dengan Hakim anggota Diana Febrina Lubis dan Nur Erfianti Meliala terdakwa Hardi menuturkan dirinya dipaksa untuk mengakui perbuatannya untuk menghabiskan korban Jasiaman Purba Tua oleh oknum polisi.

“Wajah saya ditutup pakai plastik sampai delapan lapis. Susah bernafas jadinya. Dipukul bagian kuping, kaki dan kepala,” ujar dia meniru ucapan Hardi di hadapan majelis hakim.

Lanjut dia, setelah terdakwa ditangkap, Hardi tidak langsung dibawa ke kantor polisi Polres Binjai, tapi diajak muter-muter selama 2 jam ke daerah kebun sawit.

“Dua mobil kami. Saat di situ (kebun sawit) keluar semua polisi. Saya dibawa agak jauh dari mobil. Sesampai di Mapolres, dibawa ke ruang gelap. Disiksa lagi (saat di ruang gelap). Sama mereka-mereka (polisi). Tidak ada diberi minum dan makan,” ucap dia dari pengakuan Hardi di persidangan.

Karennya pihaknya menepis semua tindak pidana pembunuhan yang dituduhkan ke Hardi. Menurut dia, semua ini dilakukan secara rekayasa. Meski, dia kenal dengan Rosmalinda terdakwa lainnya selama 6 bulan.

Bahkan, kliennya Hardi menyatakan sudah 3 kali di BAP dan 3 kali menandatangani BAP serta saat di BAP pertama oleh penyidik Polres setempat, kliennya ditampar, dipukul dan bentak2 selama BAP.

“Saksi penyidik verbal keduanya menyatakan rekonstruksi dilakukan satu kali, menurut Hardi Sihaloho ada 2 kali, saat pra rekonstruksi dilakukan di TKP tertutup tidak diperbolehkan disaksikan umum dan rekonstruksi terbuka untuk umum,” tutup dia.

Meski Hardi menepis, Kapolres Binjai, AKBP Donald P Simanjuntak membantah pernyataan Hardi di persidangan yang membeberkan adanya dugaan rekayasa penetapan tersangka hingga jadi terdakwa, melalui pesan Whatsapp ke wartawan, Selasa (4/9/2018) malam. Bahkan dia mengultimatum rekayasa penetapan tersangka adalah dosa besar.

“Dosa besar kita (Polisi) apabila melakukan rekayasa penetapan tersangka kasus pembunuhan yang merenggut nyawa seseorang,” kata Kapolres.

Masih kata Kapolres, Polisi mempunyai dua alat bukti untuk menetapkan Hardi dan Rosmalinda sebagai tersangka, sebelum diserahkan ke pihak Kejaksaan.

“Polisi sudah memiliki dua alat bukti yang menguatkan penetapan kedua tersangka ini. Jadi jelas, tidak ada rekayasa atau pemaksaan dalam pengungkapan kasus ini,” pungkasnya.

Seperti diberitakan dalam kasus ini dua orang menjadi terdakwa, selain Hardi (42) yang merupakan warga Jalan Sukadamai, Lingkungan IV, Kelurahan Sukaramai, Binjai Barat, juga terdakwa Rosmalinda br Saragih (42) warga Jalan Teratai, Lingkungan VII, Kelurahan Pahlawan, Binjai Utara di Ruang Sidang Cakra Pengadilan Negeri Klas I-B Binjai.

Kasus Hardi ini menjadi terdakwa atas kasus penemuan mayat pria di dalam parit yang diketahui bernama Jasiaman Purba (55), warga Jln.Teratai, Kecamatan Binjai Utara, Kota Binjai, Sumatera Utara. Korban, Jasiaman ditemukan meninggal dunia di dalam parit di depan rumahnya, pada Rabu 21 Maret 2018. (Red)

loading...

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Bagian yang ditandai harus diisi *

*